Sibolga Nauli, Tinggal Kenangan

Oleh: Chazali H. Situmorang (Pemerhati Kebijakan Publik)

Siap.click – Dulu Sibolga adalah bandar kecil di Teluk Tapian Nauli. Nauli itu kosakata Batak yang artinya bisa elok; bisa indah; dan juga baik. Di Sibolga ada teluk  yang disebut dengan “pantai yang indah”. Itulah Tapian Nauli.

Bandar kecil itu terletak di pulau Poncan Ketek (abad ke 18). Penguasanya waktu itu adalah “Datuk Bandar”. Gelar Datuk itu menunjukkan beliau itu orang Melayu. Semua orang yang tinggal di pesisir seluruh Sumatra disebut juga puak Melayu. Gelar Datuk menunjukkan status sosialnya yang mentereng.

Pada etnis Melayu disamping panggilan Datuk, ada juga Tengku, Orang Kaya (OK), yang menunjukkan status sosialnya yang terhormat. Sekarang ini gelar itu sering diplesetkan di masyarakat sebagai bahan candaan. Dulu Tengku sekarang jadi tengkulak. Dulu Orang Kaya sekarang jadi miskin. Ehm… ada-ada saja.

Kembali ke Sibolga, dalam perjalanan sejarahnya, di abad 19, Belanda menjadikan Sibolga sebagai Kota basis pertahanannya. Sibolga yang sekarang ini itulah tempat yang dibangun Belanda. Jadilah Sibolga sebagai Kota Pelabuhan dan Perdagangan. Jika mau ke Pulau Nias Gunung Sitoli, pasti via Sibolga. Karena jaraknya lebih dekat. Tetapi melalui lautan bebas, sehingga ombaknya besar.

Pada tahun 1946, Sibolga menjadi Daerah Otonom Tingkat B yang dipimpin oleh Walikota. Sampai sekarang status Sibolga adalah Kota sebagai daerah otonomi yang dipimpin Walikota. Di Sumatera Utara, ada 3 Kota yang dipimpin Walikota yang dipilih langsung oleh rakyatnya yaitu Kota Pematang Siantar dan Kota Tanjung Balai.

Perekonomian Sibolga didorong oleh sector perdagangan besar dan eceran dan sebagai penyumbang terbesar PDRB. Sector yang juga ada adalah pertanian, kehutanan, perikanan, konstruksi dan transportasi/pergudangan. Pergudangan ini sebagai tempat penyimpanan untuk memenuhi kebutuhan Kepulauan Nias, dan Tapanuli Selatan serta Madina.

Sektor perikanan cukup menonjol, dan dijuluki sebagai “kota ikan”. Ditandai dengan banyaknya penduduk yang berpencaharian sebagai nelayan. Perekonomian secara keseluruhan pertumbuhannya konsisten. Konsisten ini maknanya bisa konsisten lambat atau konsisten cepat. Jawabannya pada angka pertumbuhan Sibolga tumbuh di angka 3,92 persen pada tahun 2024. Angka ini lebih rendah dari tahun 2023 yang sebesar 4,20 persen. Sibolga saat ini sedang  menghadapi tantangan kemiskinan. Kemiskinan dan kualitas hidup masyarakat Sibolga telah  didepan mata dengan musibah banjir bandang dan tanah longsor.

Kota Mati

Sampai sekarang akses ke Tapteng dan Sibolga terputus. Aliran listrik juga terputus. Banjir bandang membawa kayu gelondongan  hasil dari perusakan hutan yang ada di sekitar Kab. Tap.Tengah dan Sibolga. Air bah yang dahsyat dengan membawa gelondongan kayu hutan merupakan alat pemukul yang telak menghajar perumahan yang dilalui banjir bandang itu.

Komunikasi dengan mereka yang terperangkap tidak jelas nasibnya. Bisa bayangkan apa yang bisa diselamatkan harta benda mereka, dan mau dibawa kemana. Karena banjir mengepung dengan ketinggian yang terlihat hanya atap rumah.

Sekarang air sudah surut. Tapi akibat yang ditinggalkan sulit untuk mengatasinya. Kerusakan yang parah dan rata dengan tanah dan menjadi tumpukan barang rongsokan,dan penduduk yang kehilangan tempat tinggal.

Sejauh mana Pemda Propinsi Sumut dan Pemerintah Pusat harus bertanggung jawab  mengerahkan kekuatan bantuan. Bangun jembatan udara dengan mobilisasi lintas udara. Kapal angkatan laut kerahkan bawa logistic merapat keteluk Sibolga. Jalur darat sulit diandalkan. Tapi pertanyaan apa Pemda cukup duit?

Kota Sibolga harus diselamatkan. Jika tidak Sibolga akan menjadi kota mati. Dukungan bantuan masyarakat harus dimobilisasi jika tidak mendapakan penanganan yang layak dari Pemerintah. Kita berpacu dengan waktu atas keselamatan manusia yang terisolasi dihantui kelaparan, penyakit, khususnya para lansia dan anak-anak.

Jika Pemerintah lambat, Gubernurnya lebih banyak bingungnya, dan tidak bisa menempatkan skala prioritas untuk menyelesaikan masalah  yang menyangkut nyawa manusia,  maka dapat dipastikan Sibolga akan menjadi kota horror yang menakutkan. Jika itu yang terjadi maka bangsa Indonesia akan kehilangan pengakuan duna sebagai bangsa yang menjunjung tinggi peradaban.

Apakah Gubernur Sumut Bobi Nasution memahami kewajiban konstitusional dan moralitas yang tinggi, untuk menyelamatkan warganya orang Sumatera Utara termasuk Sibolga dimana mungkin keluarga dan sanak familinya bagian dari yang mengalami musibah yang dahsyat itu.

Jangan sampai terjadi kemarahan kolektif direlung hati rakyat yang paling dalam. Jika itu yang terjadi akan menimbulkan gelombang besar kemarahan yang bisa menggulung siapa saja. Kesadaran kolektif harus kita bangun bersama atau tidak bersama Gubernur. (Azwar)

Cibubur 28 Nopember 2025

Share